Menggaungkan Nilainya Saja Tidak Cukup, Hidupilah dan Jadilah Wujudnya
Sebagai insan yang banyak belajar, berproses, dan bertumbuh, bahkan pernah diberi amanah sebagai Direktur Unit Kegiatan Mahasiswa UNJA Training Motivation Centre (UKM UTMC), saya meyakini bahwa UTMC adalah organisasi yang layak dan pantas untuk diperjuangkan.
Bukan semata karena apa yang diajarkan di dalamnya, tetapi karena nilai dan kehangatan lingkungan yang mampu membentuk manusia menjadi lebih baik. Manusia yang tidak berhenti pada upaya memperbaiki dirinya sendiri, tetapi berani mengambil peran, menebar kebaikan, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi orang lain.
Di tengah dinamika, hiruk-pikuk, serta berbagai persoalan lingkungan dan karakter pemuda, khususnya mahasiswa hari ini, UTMC hadir sebagai ruang yang relevan. Sebuah media pembelajaran yang membawa harapan untuk menjadi pusat pelatihan yang mampu memberikan motivasi, mengembangkan kapasitas, meningkatkan sumber daya manusia melalui pembinaan karakter, serta melahirkan mahasiswa bahkan trainer muda yang berintegritas.
Karena itu, saya memiliki keyakinan bahwa sebenarnya UTMC menghendaki sebuah contoh.
Sebagaimana jargon yang selama ini digaungkan:
“Salam semangat penuh cinta, menyapa hati, merengkuh prestasi, serta memberi inspirasi.”
Bagi saya, kalimat itu bukan sekadar jargon. Di dalamnya terdapat gambaran tentang manusia yang ingin dilahirkan oleh UTMC.
Seseorang yang bahkan dari salamnya saja terpancar semangat dan rasa cinta.
Seseorang yang melalui perilaku dan tutur katanya mampu menyapa hati.
Seseorang yang melalui gerak dan karyanya mampu merengkuh prestasi.
Dan Seseorang yang dengan seluruh proses itu mampu memberi inspirasi bagi orang lain.
Semua nilai itu tidak cukup hanya ada dalam kata-kata. Ia harus terejawantahkan dalam satu raga, menjadi karakter, sikap, kebiasaan, dan keteladanan yang dapat dilihat serta dirasakan.
Namun, keteladanan itu tidak seharusnya berhenti pada satu orang. Sebab saya meyakini, UTMC tidak menghendaki satu figur yang menjadi contoh sementara yang lain hanya menjadi penonton. UTMC menghendaki sebuah ekosistem yang membuat setiap anggotanya berupaya menjadi contoh.
Setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang mampu membawa semangat, menghadirkan cinta, menyapa hati, merengkuh prestasi, dan memberi inspirasi.
Dengan begitu, jargon UTMC bukan hanya sesuatu yang digaungkan ketika pertemuan. Ia menjadi nilai yang dihidupi dalam keseharian dan tercermin dalam cara kita bersikap, berbicara, berkarya, serta mengambil peran.
Sebab pada akhirnya, UTMC bukan hanya tentang menjadi trainer yang mampu berbicara di depan orang lain. UTMC adalah tentang menjadi manusia yang layak didengar karena apa yang disampaikan selaras dengan apa yang dijalankan.
Sebab apa artinya sebuah pelatihan jika ia hanya membuat seseorang pandai berbicara, tetapi tidak mampu mengubah cara ia bersikap? Apa artinya sebuah jargon jika ia hanya indah ketika diucapkan, tetapi tidak hidup dalam keseharian?
Maka, barangkali inilah tugas kita hari ini: menghidupkan UTMC di dalam diri kita masing-masing.
Menjadikan semangat bukan sekadar seruan, tetapi energi untuk bergerak.
Menjadikan cinta bukan sekadar kata, tetapi cara untuk memperlakukan sesama.
Menjadikan kemampuan menyapa hati bukan sekadar keterampilan berbicara, tetapi ketulusan dalam memahami.
Menjadikan prestasi bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi jalan untuk memberi arti. Dan menjadikan inspirasi bukan sekadar sesuatu yang kita berikan, tetapi sesuatu yang lahir dari keteladanan yang kita hidupi.
Karena saya percaya, masa depan UTMC tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpinnya, seberapa banyak program yang dilaksanakannya, atau seberapa besar pencapaiannya. Masa depan UTMC ditentukan oleh manusia-manusia yang memilih untuk menghidupkan nilai-nilainya.
Maka jangan menunggu seseorang untuk menjadi contoh. Tapi jadilah contoh itu.
Jangan menunggu UTMC menjadi seperti yang kita harapkan. Tapi jadilah bagian dari alasan mengapa UTMC dapat menjadi seperti yang kita harapkan.
Sebab mungkin, UTMC tidak membutuhkan satu manusia yang sempurna. UTMC hanya membutuhkan manusia-manusia yang bersedia terus belajar, terus bertumbuh, terus memperbaiki diri, dan terus memilih untuk memberi manfaat.
Hingga pada akhirnya, ketika orang bertanya, “Apa itu UTMC?”
Kita tidak perlu menjawabnya dengan definisi yang panjang. Cukup tunjukkan bagaimana kita hidup. Karena ketika nilai-nilai UTMC telah hidup dalam setiap anggotanya, maka di sanalah UTMC menemukan wujudnya.
Bukan hanya sebuah organisasi. Bukan hanya sebuah ruang pelatihan. Tetapi sebuah rumah yang melahirkan manusia-manusia yang semangatnya menggerakkan, cintanya menguatkan, sikapnya menyapa hati, karyanya merengkuh prestasi, dan keberadaannya memberi inspirasi.
Itulah UTMC yang layak kita perjuangkan.
Itulah UTMC yang layak kita hidupkan.

Komentar
Posting Komentar